Aku Tak Mampu Lari Darimu
Tak ada sebuah perjalanan hati sedahsyat aku lalui dan lewati bersama kamu. Mungkin jadi ini kisah cinta Romeo Juliet abad baru di versi baru, berbeda, kisah cinta dua anak manusia yang berdosa.
Anugrah cinta dari Tuhan ini sungguh luar biasa, meski aku, kamu juga tahu ini tidak selayaknya.
Aku hanya kukuh cinta ini suci.
14 November 2010, seperti mimpi aku bisa kembali menemuimu, di satu tempat pertama kali kita pernah bertemu. Betapa kamu tahu aku ingin memeluk kamu saat itu. Aku tahu posisi masing-masing, kamu sudah milik orang lain. Dan di sisi lain, aku tak akan mampu menahan emosi kalau aku memelukmu di situ saat itu, di depan stasiun ciamis, di depan tukang ojek dan pedagang yang tersisa dini hari itu.
Dan benar saja, aku benar-benar terisak saat aku meminta kamu memelukku, aku makin tak kuasa saat aku balas pelukanmu, semakin lekat aku memelukmu, semakin tak kuasa aku menahan emosi.
Berbanding terbalik, pelukanmu semakin melemah untukku. Aku tahu, aku tahu, aku tahu,…
Ini memorable banget, saat aku bisa memelukmu, mencium pipi, kening dan lehermu. Atau bahkan aku kecup bibirmu tanpa kau membalasnya.
Adakah kau rasakan yang berbeda dari caraku memelukmu? Mencium pipi kening leher dan bibirmu? Adakah aku berbeda?
Aku hanya ingin tunaikan janjiku. Bertanggung jawab dan serius kepadamu. Itu yang kamu minta beberapa waktu lalu. Dan aku telah tunaikan dengan menunjukkan keseriusanku. Tapi sebenarnya di saat yang sama, aku juga bisa menuntut janji hati mu yang hanya untukku. Cinta sehidupmatimu dulu. Tapi kamu sudah cukup nyaman dan sangat nyaman dengan hubungan kalian saat ini.
Saat aku meminangmu, kau jawab, “cukup tahu perasaan masing-masing, dan cukup tahu kita berdua saja”. Sambil kau menunjukkan cincin melingkar di jarimu. Seolah kau bertanya, “mau dikemanakan cincin ini?”.
Entah kau tahu atau tidak, aku masih sama seperti yang dulu. Entah kau juga tahu atau tidak, kalau di jariku melingkar cincin yang pernah kau berikan untukku. Cincin itu selalu melingkar di jariku. Aku bangga memakainya kemanapun dan dengan siapapun aku bertemu. Sampai dari kemaren datang dan hari ini, aku memakai baju yang pernah kita beli bersama, dan baju pemberian darimu.
Mungkin berbeda denganmu yang sudah menyimpan semuanya di almari.
Semua benda dan kenangan tentang kamu masih utuh semuanya. Meski aku tak bisa menyimpan rapi, karna memang begitulah aku. Berantakan.
Aku benar-benar stuck on you. Kamu sosok yang sangat tegar dibalik ringkihnya tubuhmu. Hatimu jauh lebih indah dibanding senyumanmu.
Terimakasih sudah telah memelukku, ikut menangis dan merasakan apa yang aku rasakan. Bedanya, mungkin aku lebih banyak dan lama menangis, hingga detik inipun, saat aku tulis blog ini, air mata ini sudah ibarat mata air tanpa kran. Sekarang, aku hanya bingung menangisi apa?
Aku sudah mencoba menahan untuk tak menangis lagi, capek. Tapi tetep tak bisa.
Hadiah terindah untukku disini adalah saat kau memelukku dan ikut menangis di pelukku meski tak lebih dari semenit saja. Dan saat kau ceritakan tentang keluarga dan masa kecilmu.
Arrrrrrrgh,………. Omagah!
Saat kau ceritakan masa-masa indah dan pahit kita bersama, bahkan saat saat pahit setelah aku meninggalkanmu. Sampai akhirnya kini kau telah bahagia.
But damn its true! We are really have so many same thing in life. Dulu, aku hanya berpikir kita cocok karna memiliki kesamaan. Hobi musik dan radio, tapi akhirnya aku tahu kita memiliki masa kecil yang sama. SAMA! Ini kebetulan atau bagaimana, aku juga tak tahu. Bagaimana orang tua ke kita, kita ke orangtua. Damn its true!
Satu hal, aku sudah penuhi tantanganmu, penuhi janji dan menunjukkan tanggung jawabku. Aku tak mau mengganggu hubungan kalian. Namun jujur aku selalu menunggu kau kembali untukku. Saat kau pernah berjanji dulu.
Di tiga kisah yang kau ceritakan, selalu ada orang yang menguatkan saat kau terjatuh. Dan aku mau akulah yang akan menguatkan saat kau terjatuh nanti. Namun, semoga kau tak perlu terjatuh saat kau kembali nanti.
Aku, menunggu cincin itu luruh.
Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku hanya mencintaimu.
Sekaligus, aku pamit pulang kembali ke surabaya. Aku berharap semuanya makin membaik. Baik untukku, untukmu, untuk kita. Hanya itu saja.
Peluk dan cium selalu untukmu
‘Sang Pendosa’
Posted with WordPress for WhiteBerry.
Leave a Comment
Be the first to comment!
